Powered By Blogger

Kamis, 05 Desember 2013

pengertian peta

PENDAHULUAN
Peta adalah gambaran permukaan bumi yang diproyeksikan ke dalam bidang datar denngan skala tertentu. Kartografi merupakan ilmu yang khusus mempelajari segala sesuatu tentang peta. Mulai dari sejarah, perkembangan, pembuatan, pengetahuan, penyimpanan, hingga pengawetan serta cara-cara penggunaan peta. Dalam makalah ini akan dibahas bagaimana proses pemetaan dan simbol pada peta.
Lalu apa fungsi dan tujuan pembuatan peta? Adan beberapa maksud dari pembuatan sebuah peta. Fungsi pembuatan peta antara lain:
1. Dengan adanya peta dapat menunjukkan posisi atau lokasi relatif yang hubungannya dengan lokasi asli dipermukaan bumi.
2. Peta mampu memperlihatkan ukuran.
3. Peta mampu menyajikan dan memperlihatkan bentuk.
4. Mengumpulkan dan menyeleksi data dari suatu daerah dan menyajikan diatas peta dengan simbolisasi.
Sedangkan tujuan pembuatan peta yaitu:
1. Untuk komunikasi informasi ruang.
2. Media menyimpan informasi.
3. Membantu pekerjaan.
4. Membantu dalam desain.
5. Analisis data spatial.
Dari fungsi dan tujuan diatas, maka peta bukan hanya berguna dalam menentukan lokasi namun juga dalam berbagai bidang. Selain itu, pembuatan peta bukan semata-mata hanya karena untuk memperoleh uang, namun juga sangat berguna bagi hajat hidup masyarakat yang luas dalam keruangan.
Dalam proses pemetaan harus melalui beberapa tahapan mulai dari penyusunan ide hingga peta siap digunakan. Kesemua itu harus dilakukan dengan penuh hati-hati dan ketelitian agar diperoleh peta yang baik dan benar sera memiliki dilai artistik atau seni sehingga pengguna mampu menggunakan peta dengan maksimal dan pembuat dapat menghasilkan peta yang baik sehingga terjadi timbal balik antar pengguna dengan pembuat peta.
Dalam pemberian simbol pada peta juga harus diperhatikan agar peta mudah diketahui dan dipahami isi dan maksud peta tersebut. Pemberian simbol ini juga menentukan nilai keartistikan sebuah peta sehingga peta tersebut enak dipandang dan lebih jelas.
ISI
A. Proses Pemetaan
Dalam mempelajari bidang kartografi, peta sangatlah diperlukan. Tanpa adanya peta, Kartografi tidak akan ada pula karena kartografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang perpetaan. Berbagai jenis peta telah muncul sesuai dengan maksud, tujuan, serta manfaat pembuatan peta tersebut. Namun, bagaimanakah sebuah peta itu dibuat? Dalam mempelajari kartografi kita harus mengetahui hal tersebut.
Pada dasarnya, peta merupakan kalibrasi dari bidang permukaan bumi 3 dimensi menjadi sebuah gambaran utuh yang lebih sederhana ke dalam selembar kertas media yang datar dengan penyesuaian baik ukuran maupun bentuknya disertai pula dengan informasi dan detail-detailnya.
Dalam proses pembuatan peta harus mengikuti pedoman dan prosedur tertentu agar dapat dihasilkan peta yang baik, benar, serta memiliki unsur seni dan keindahan. Secara umum proses pembuatan peta meliputi beberapa tahapan dari pencarian dan pengumpulan data hingga sebuah peta dapat digunakan. Proses pemetaan tersebut harus dilakukan dengan urut dan runtut, karena jika tidak dilakukan secara urut dan runtut, tidak akan diperoleh peta yang baik dan benar. Lalu apa dan bagaimana proses atau tahap-tahap pemetaaan itu?
1. Tahap pencarian dan pengumpulan data
Ada beberapa cara dalam mencari dan mengumpulkan data, yaitu:
a. Secara langsung
Cara pencarian data secara langsung dapat melalui metode konvensional yaitu meninjau secara langsung ke lapangan dimana daerah tersebut akan dijadikan objek dari peta yang dibuat. Cara ini disebut dengan teristris. Dengan cara ini dilakukan pengukuran medan menggunakan theodolit, GPS, dan alat lain yang diperlukan serta pengamatan informasi ataupun wawancara dengan penduduk setempat secara langsung sehingga didapat data yang nantinya akan diolah.
Dapat pula dilakukan secara fotogrameti, yaitu dengan metode foto udara yang dilakukan dengan memotret kenampakan alam dari atas dengan bantuan pesawat dengan jalur khusus menurut bidang objek. Atau dapat pula menggunakan citra dari satelit serta cara-cara lain yang dapat digunakan
b. Secara tak langsung
Melalui cara ini tentu saja kita tidak usah repot-repot meninjau langsung ke lapangan melainkan kita hanya mencari data dari peta atau data-data yang sudah ada sebelumnya. misalnya dalam membuat peta kepemilikan tanah di daerah Semarang, kita cukup mencari peta administrasi lengkap kota Semarang, kemudian dapat diperoleh data pemilikan tanah di Lembaga Pertanahan daerah atau nasional (BPN).
Data yang diperoleh dari pencarian data secara tak langsung ini disebut dengan data sekunder, sedangkan peta yang digunakan sebagai dasar pembuatan peta lain disebut sebagai peta dasar.
2. Tahap pengolahan data
Data yang telah dikumpulkan merupakan data spasial yang tersebar dalam keruangan. Data yang telah diperoleh tersebut kemudian dikelompokkan misalnya data kualitatif dan data kuantitatif, kemudian data kuantitatif dilakukan perhitungan yang lebih rinci. Langkah selanjutnya yaitu pemberian simbol atau simbolisasi terhadap data-data yang ada.
Dalam tahap akan mudah dengan menggunakan sistem digital komputing karena data yang masuk akan langsung diolah dengan software atau aplikasi tertentu sehingga data tersebut akan langsung jadi dan siap untuk disajikan.
3. Tahap penyajian dan penggambaran data
Tahap ini merupakan tahap pembuatan peta dari data yang telah diolah dan dilukiskan pada media. Dalam tahap ini dapat digunakan cara manual dengan menggunakan alat-alat yang fungsional, namun cara ini sangat membutuhkan perhitungan dan ketelitian yang tinggi agar didapat hasil yang baik.
Akan lebih baik jika digunakan teknik digital melalui komputer, penggambaran peta dapat digunakan aplikasi-aplikasi pembuatan peta yang mendukung, misalnya ARC View, ARC Info, AutoCAD Map, Map Info, dan software lain. Setelah peta tergambar pada komputer, kemudian data yang telah disimbolisasi dalam bentuk digital dimasukkan dalam peta yang telah di gambar pada komputer, pemberian informasi tepi, yang kemudian dilakukan proses printing atau pencetakan peta.
4. Tahap penggunaan data
Tahap ini sangatlah penting dalam pembuatan sebuah peta, karena dalam tahap ini menentukan baik atau tidaknya sebuah peta, berhasil atau tidaknya pembuatan sebuah peta. Dalam tahap ini pembuat peta diuji apakah petanya dapat dimengerti oleh pengguna atau malah susah dalam dimaknai. Peta yang baik tentunya peta yang dapat dengan mudah dimengerti dan dicerna maksud peta oleh pengguna. Selain itu, pengguna dapat memberikan respon misalnya tanggapan, kritik, dan saran agar peta tersebut dapat disempurnakan sehingga terjadi timbal balik antara pembuat peta (map maker) dengan pengguna peta (map user).
Dalam buku “Desain dan Komposisi Peta Tematik” karangan Juhadi dan Dewi Liesnoor, disebutkan bahwa tahapan pembuatan peta secara sistematis yang dianjurkan adalah:
1. Menentukan daerah dan tema peta yang akan dibuat
2. Mencari dan mengumpulkan data
3. Menentukan data yang akan digunakan
4. Mendesain simbol data dan simbol peta
5. Membuat peta dasar
6. Mendesain komposisi peta (lay out peta), unsur peta dan kertas
7. Pencetakan peta
8. Lettering dan pemberian simbol
9. Reviewing
10. Editing
11. Finishing

Blog pada WordPress.com. Tema: Garland oleh Stefan Nagtegaal and Steven Wittens.

Selasa, 03 Desember 2013

batuan BEKU

BATUAN BEKU

Batuan Beku
Batuan yang terbentuk akibat adanya pembekuan magma didalam bumi atau pembekuan lava di atas permukaan bumi.
           
            Kumpulan interlocking agregat mineral-mineral silikat hasil magma yang mendingin
(WT. Huang, 1962)

STRUKTUR BATUAN BEKU
Macam Struktur batuan beku :
1.      Masif            
tidak menunjukkan adanya fragmen batuan lain yg tertanam dalam batuan.
Gambar 3. Struktur massif pada basalt
2.Vesicular                     
suatu struktur  ditandai adanya lubang- lubang dengan arah teratur. Lubang-lubang ini terbentuk akibat keluarnya gas dari dalam batuan akibat adanya proses pembekuan.
Gambar 4. Struktur Vesicular basal
3.Scoria                       
struktur seperti vesicular tapi arah lubangnya tidak teratur.
4.Pillow lava
              
struktur pada batuan ekstruksi, ukurannya antara 10 cm – 6 m dan jaraknya berdekatan. Struktur ini merupakan struktur khas bawah laut. Struktur ini terbentuk pada daerah MOR (Mid oceanic ridge) atau punggungan tengah samudra, dimana lava yang keluar akan bertemu dengan air laut. Akibat tekanan hidrostatis maka bentuknya membulat menyerupai bantal. umumnya berasosiasi dengan sediment laut dalam seperti rijang dan batugamping merah.

Gambar 7. Pillow lava

5.Joint                 
struktur yang ditandai oleh kekar-kekar yang tegak lurus arah aliran. Struktur ini dapat berkembang menjadi columnar joint.

Gambar 8. columnar joint
Lava yang muncul ke permukaan keluar melalui kekar /rekahan pada batuan. lava akan membentuk seperti tiang-tiang searah dengan arah kekar yang tegak lurus arah aliran sehingga struktur yang nampak berbentuk tabular.

6.Amigdaloidal               
struktur dimana lubang-lubang tempat keluarnya gas terisi oleh mineral-mineral sekunder (zeolit, karbonat, silika).

7.Xenolith                 
struktur yang memperlihatkan adanya suatu fragmen batuan yang masuk/tertanam didalam batuan beku akibat peleburan tidak sempurna suatu batuan samping di dalam magma yang menerobos.

8.Autobreccia               
struktur pd lava yang memperlihatkan fragmen-fragmen dari lava itu sendiri.

TEKSTUR BATUAN BEKU

Tekstur merupakan hubungan antara massa mineral dengan massa gelas yang membentuk massa yang merata dari batuan. tekstur tergantung pada kecepatan dan orde kristalisasi. Dimana keduanya sangat tergantung pada temperature, komposisi kandungan gas, viskositas magma dan tekanan.

A. Derajat Kristalisasi

Merupakan proporsi antara massa kristal dengan massa gelas dalam batuan.

1. Holokristalin : batuan seluruhnya terdiri atas massa kristal.

Gambar 11. Andesit

2. Hipokristalin : batuan tersusun oleh massa kristal dan gelas.

Gambar 12. Granit

3. Holohyalin : batuan tersusun oleh massa gelas seluruhnya.

Gambar 13. Obsidian/ volcanic glass
B. Granularitas
Merupakan ukuran butir kristal dalam batuan beku, dapat sangat halus dan tidak dapat dikenal meski dengan mikroskop, tetapi dapat pula sangat kasar.
1.Afanitic                
ukuran butir halus (< 1 mm); tidak dapat dibedakan dengan mata telanjang dan menunjukkan pembekuan yang cepat.
       
Gambar 14. Rhyolite
o    Basalt              Rhyolite                       Andesite
2.Fanerik                 
ukuran butir kasar  (1->30 mm); menunjukkan pembekuan yang lambat.
Gambar 15. Granite - polished
o    Granite                        Diorite                         Gabbro
Dibagi menjadi 4 yaitu :
1.      Fanerik halus; diameter kristal ≥ 1 mm
2.      Fanerik sedang; diameter kristal 1-5 mm
3.      Fanerik kasar; diameter kristal 5-30 mm
4.      Fanerik sangat kasar; diameter kristal > 30 mm
3.Porphyritic      
campuran ukuran butir yang bermacam2. Menunjukkan proses pembekuan yang bercampur. Umumnya pembekuan berjalan lambat baru kemudian cepat.
C. Kemas
a. Bentuk Kristal/bentuk butir mineral
1. Euhedral : butiran mineral mempunyai bidang kristal sempurna.
2. Subhedral : butiran mineral dibatasi oleh sebagian bidang kristal yang sempurna.
3. Anhedral : butiran mineral mempunyai bidang kristal tidak sempurna.

b. Relasi/Hubungan antar kristal
Merupakan hubungan antara kristal satu dengan lainnya dalam suatu batuan dari segi ukuran
1. Equigranular :   Bila secara relatif ukuran kristalnya mempunyai ukuran sama besar.
2. Inequigranular : Bila secara relatif ukuran kristalnya mempunyai ukuran tidak sama besar



KOMPOSISI MINERAL

Dalam magma terdapat bahan-bahan yang larut yang bersifat volatile (gas) dan nonvolatile.
Bahan-bahan non volatile, terutama yang berupa oksida-oksida dalam kombinasi tertentu merupakan bahan pembentuk mineral yang lazim dijumpai dalam batuan beku.

Pada saat berlangsungnya penurunan suhu magma, terjadi proses penghabluran (pembentukan mineral-mineral).

Berdasarkan warnanya, mineral penyusun batuan beku dapat dibedakan menjadi dua :
1. Mineral Felsik
   Mineral-mineral berwarna terang, terutama dari mineral kuarsa, feldspar (ex : orthoklas, plagioklas,albit) feldspatoid (nevelin, leusit, sodalit) dan   muskovit. Densitas rata-rata 2,5 -2,7

2. Mineral Mafik
    Mineral-mineral berwarna gelap, terutama kelompok olivin, Piroksen, mika, muskovit, dan amphibole
   
3. Mineral Sekunder
Mineral ubahan dari mineral utama dari hasil pelapukan, reaksi hidrothermal maupun metamorfisme mineral-mineral utama. Mineral yg terbentuk pd kristalisasi magma, umumnya jumlahnya sedikit. Dalam jumlah banyak dapat bernilai ekonomis tetapi tidak mempengaruhi penamaan batuan.

Oleh Bowen disusun seri penghabluran mineral-mineral silikat yang dikenal dengan Bowen’s Reaction Series.
*      Deret sebelah kanan adalah mineral felsik (kelompok plagioklas) yang terbentuk setelah kristalisasi, dan dengan proses yang berkesinambungan dengan turunnya temperatur terbentuk komposisi yang kaya akan kalsium (anortit) s/d komposisi yang kaya akan sodium (albit). Mineral bersifat continuous series (mineral-mineral yang terbentuk diawal deret tetap dapat terbentuk lagi pada deret selanjutnya).

*      Deret sebelah kiri mewakili mineral-mineral mafik. mineral-mineral besi dan magnesium terbentuk pada awal kristalisasi dari larutan dan terendapkan dengan sempurna membentuk mineral-mineral baru dengan suatu sekuen reaksi yaitu :

Olivine ® hypersthene ® augit ® hornblende ® biotit  
 
Mineral bersifat discontinuous series (mineral-mineral yang terbentuk diawal deret tidak akan terbentuk lagi pada deret selanjutnya).

*      Kedua deret bertemu pada kelompok mineral stabil yang tidak mudah terubah menjadi mineral lain (Orthoklas – Quartz)



ANORTIT

BITONIT



LABRADORIT

ANDESIN




OLIGOKLAS

ALBIT
 
600˚C
 
900˚C
 
1200˚C
 
POTASH FELSPAR
 

Gambar 16. Bowen’s Reaction Series










KLASIFIKASI BATUAN BEKU

Pengklasifikasian batuan beku dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Cara yang paling umum adalah berdasarkan lokasi pembentukkannya dan berdasarkan komposisi mineralnya.

A. Berdasarkan tempat pembekuan :
   a. Batuan Beku Dalam (Abysis/Plutonis)
       Tempat pemekuan jauh di dalam kulit bumi.
        Berstruktur holokristakin, semua bagian batuan terdiri dari kristal-kristal (besar-besar  dan kasar).

       Contoh : Granit, Diorit, Gabro, Syenit dll.
Gambar 17. Gabro
   b. Batuan Beku Gang
       Tempat pembekuan pada sela-sela lapisan batuan / pada corong diatrema.
       Berstruktur porfiris-fenokrist              pengkristalan sempurna, ada sebagian yang Besar dan kasar
                                                                     adapula yang halus.
       Contoh : Porfir granit, porfirit, porfir syenit, porfir gabro.

   c. Batuan Beku Luar
       Tempat pembekuan di permukaan bumi (lava).
       Berstruktur amorf  : kristal terberbentuk, sangat halus.
       Contoh : Rhyolit, Andesit, Trachit, Basalt, Obsidian, dll.

Tabel 2. klasifikasi batuan beku berdasarkan tempat pembekuan
Tempat Pembekuan
Nama Batuan
Batuan Beku Dalam
Granit
Diorit
Syenit
Gabro
Batuan Beku Gang
Porfir Granit
Porfirit
Porfir Syenit
Porfir Gabro
Batuan Beku Luar
Rhyolit
Andesit
Trachit
Basalt

Gambar 18. Pembagian batuan berdasarkan tempat pembekuan
B. Berdasarkan komposisi mineralnya
1. Batuan beku asam                           SiO2 > 66% (granit, monzonit).
2. Batuan beku intermediet                 SiO2 52 - 66 % (granodiorit, diorit, andesit).
3. Batuan beku basa                SiO  45 - 52 % (basalt, gabro).
4. Batuan beku ultra basa       SiO< 45 % (peridotit, hazburgit).


Gambar 20. Klasifikasi berdasarkan komposisi mineral dan tekstur batuan


Tabel 1. Deskripsi Batuan Beku

RELASI

 

       JENIS BATUAN

TEKSTUR

ASAM

INETRMEDIATE

BASA

EQUI

GRANULAR

GELAS
OBSIDIAN
holohyalin


AFANITIK

ANDESIT LAVA
hipokristalin
BASALT LAVA
hipokristalin

 

INEQUI

GRANULAR

FANERIK HALUS

ANDESIT
hipokristalin
BASALT
hipokristalin
FANERIK KASAR
DACITE
Hipokristalin

GRANIT
Holokristalin

GRANODIORIT
holokristalin

DIORIT
holokristalin

GABRO
Holokristalin

DIABAS
holokristalin