Powered By Blogger

Kamis, 26 Oktober 2017

Kamis, 12 Oktober 2017

KEARIFAN LOKAL UNTUK KETAHANAN PANGAN

Edu Geography  ( ) (2016)

Edu Geography




KEARIFAN LOKAL SEBAGAI UPAYA KETAHANAN PANGAN DI DESA LEREP, KECAMATAN UNGARAN BARAT, KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016

Mohamad Wakhyudin * Juhadi, Heri Tjahjono


Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang, Indonesia





Info Artikel

Abstrak





Sejarah Artikel:
Diterima
Disetujui
Dipublikasikan
                                                Keywords:
Lokal Wisdom, Food Tenacity.

Desa Lerep adalah daerah yang masih membuat dan mempertahankan kearifan lokal sebagai upaya ketahanan pangan masyarakat Desa Lerep. Upaya yang dilakukan untuk ketahanan pangan dapat melalui peraturan Desa dan peraturan adat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg sebagai upaya ketahanan pangan serta tetap menjaga pelestarian lingkungan. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, angket dan dokumentasi. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan Triangulasi. Hasil penelitian: Upaya Ketahanan Pangan melalui kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg berupa peraturan desa dengan sistem Agrofirestry dengan tumpangsari untuk meningkatkan pendapatan sebagai akses pangan meliputi pengelolaan perkebunan dengan mempertimbangkan pelestarian lingkungan.





Abstract

Lerep village is an area which is still made and maintaining local wisdom as food tenacity effort for villagers in Lerep village. The efforts that was done for food tenacity can be through village’s regulation and customary law. The main purpose of the research is to understand the local wisdom Tunggu Gunung Kudu Wareg as food tenacity effort along with maintaining the environment conservation. These research uses qualitative descriptive. The technique of collecting data uses observation, interview, questisionaris and documentation. The technique of checking data validity uses Triangulation. The research results: Food Tenacity Efforts through local wisdom Tunggu Gunung Kudu Wareg is a kind of village’s regulation with Agroforesttry system with Tumpangsari to improve income as food acces include by managing plantation considering to environment conservation.


© 2016 Universitas Negeri Semarang





* Alamat korespondensi:
Gedung C1 Lantai 2 FIS Unnes
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229

ISSN




PENDAHULUAN


Dewasa ini, masalah pangan merupakan hal yang sangat sensitif dalam pembangunan hal ini disebabkan adanya kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar untuk kebutuhan pangan disertai dengan lunturnya kearifan lokal oleh masyarakat akibat pengaruh dari luar. Oleh karena hal tersebut, perlu adanya upaya ketahanan pangan melalui kearifan lokal dengan memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki tanpa merusak lingkungan.
Desa Lerep adalah Desa di Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang yang terdiri dari 8 (delapan dusun), dengan wilayah 6,82 kilometer persegi dan jumlah penduduk 10.067 jiwa. dengan topografi dataran tinggi, Desa Lerep yang berada di lereng Gunung Ungaran memiliki ketinggian sekitar 310-940 meter diatas permukaan laut (dpl). (Data Monografi Desa, 2015)
Desa Lerep merupakan Desa yang membuat peraturan dalam kearifan lokal dengan slogan Tunggu Gunung Kudu Wareg” yang artinya upaya melestarikan sumber daya alam yang berada di gunung/lingkungan sebagai tempat tinggal (Tunggu Gunung) dan juga merupakan sumber ketahanan pangan masyarakat untuk bisa sejahtera (Kudu Wareg).
Kearifan lokal “Tunggu Gunung Kudu Wareg” merupakan suatu tindakan dalam bentuk Agroforestry dan tumpangsari sebagai peningkatan pendapatan masyarakat Desa Lerep sebagai akses pangan dengan  sistem perkebunan tanpa merusak lingkungan. lihat gambar 1.
 









Gambar 1. Salah satu bentuk Tumpangsari
(Sumber: Dokumentasi Penelitian Wakhyudin, tanggal 15 Juni 2016)
Konsep Kearifan Lokal berupa sistem perkebunan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dijadikan salah satu program  utama dengan harapan pohon-pohon tidak ditebang untuk dijual kayunya melainkan dirawat, karena akan dimanfaatkan buahnya. Bentuk Agroforestry dan tumpangsari telah berhasil mengurangi tingkat pembalakan liar. Hal tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal yang dilakukan oleh masyarakat Desa Lerep yang saat ini masih terjaga kelestariannya.
Berdasarkan urian tersebut, terdapat permasalahan dalam penelitian ini yaitu Bagaimana kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg dalam upaya ketahanan pangan di Desa Lerep?
Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Mengetahui kearifan lokal Tunggu Gunung  Kudu Wareg di Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. 2) Mengetahui kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg dalam upaya ketahanan pangan di Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. 3) Mengetahui potensi sumber daya hutan sebagai pendukung kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg di Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. yang dilaksanakan di Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang Tahun 2016.
Fokus penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg di Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang 2) untuk mengetahui kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg dalam upaya ketahanan pangan di Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. 3) untuk mengetahui potensi sumber daya hutan sebagai pendukung kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg di Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.
Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang dihimpun langsung dari hasil observasi atau dari tangan pertama. dalam penelitian ini sumber data primer adalah ketua adat, tokoh masyarakat, kepala desa, Pegawai PPL, Pegawai Dinas Ketahanan Pangan atau pihak-pihak yang mengetahui tentang fokus penelitian peneliti.
Data sekunder merupakan data pendukung atau data yang diperoleh dari sumber tangan kedua atau ketiga. Data sekunder penelitian ini adalah data monografi Desa, data dari PPL Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, buku-buku, majalah, jurnal, foto-foto, peta wilayah, serta referensi relevan terkait penelitian ini
Alat dan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) observasi, 2) wawancara, 3) angket, 4) studi dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis data Miles Huberman yaitu aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus menerus secara tuntas, sehingga datanya jenuh yang terdiri dari tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan atau verifikasi data (Sugiyono, 2014:337)

HASIL PENELITIAN
1.      Kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg di Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.
Tunggu Gunung Kudu Wareg merupakan slogan aturan Desa yang dibuat agar masyarakat meningkat  taraf hidupnya dengan larangan menebang pohon di hutan serta anjuran untuk menanam tanaman perkebunan yang dikemas dalam sistem kearifan lokal.
Selain aturan Desa, kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg juga meliputi kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi pangan serta beberapa anjuran dan larangan yang terikat dengan kehidupan masyarakat Desa Lerep.
Anjuran dalam kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg berupa anjuran menjalankan kebiasaan dan tradisi masyarakat Desa Lerep sedangkan larangan meninggalkan tradisi serta merusak tempat yang dianggap suci misalnya kawasan hutan mintorogo dan tuk jaro.
Kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg merupakan warisan budaya yang dilakukan oleh masyarakat Desa Lerep kepada anaknya baik kebiasaan maupun tradisi yang harus dilaksanakan oleh generasi penerus. Tradisi tersebut meliputi  Kadeso dan Iriban
Tradisi Kadeso merupakan tradisi yang diadakan oleh masyarakat Desa Lerep setiap rabu kliwon bulan apit dalam kalender jawa sebagai tanda rasa syukur terhadap Tuhan atas limpahan hasil bumi berupa makan bersama dilanjutkan nanggap wayang bertujuan sebagai bentuk penghormatan kepada Begawan Ciptoning. Menurut Bapak Junari (46 tahun) sebagai Ketua Adat Desa Lerep menyampaikan:
“Anjuran masyarakat Lerep kudu ngadakake Kadeso lan Iriban, nek mboten ngadake Iriban, wangan saged kering. Nek mboten ngadake Kadeso kadus dadi edhan, sampe sakniki kadus niku edhan. Kadeso lan Iriban mboten saged ditinggal amargi khatah manfaate, saged jalin kerukunan lan gotong royong
Berdasarkan Pernyataan Bapak Junari (46 tahun), Tradisi Kadeso dan Iriban harus dilaksanakan oleh masyarakat Desa Lerep, apabila meninggalkan Kadeso, Ketua Adat menjadi gila sedangkan apabila meninggalkan Iriban aliran sungai mengering. (Wawancara tanggal 3 Juni 2016)
 









Gambar 2. Kegiatan masyarakat Desa Lerep dalam Tradisi Kadeso (Sumber: Dokumentasi Penelitian Wakhyudin , tanggal 3 Agustus 2016)
Berdasarkan gambar 2. terlihat kegiatan nanggap wayang dalam tradisi Kadeso. Makna Kadeso ialah sebagai bentuk dari sedekah yang harus dikeluarkan agar terhindar dari sifat kikir.
Ciri khas Kadeso yang berada di Desa Lerep adalah saat nanggap wayang biasanya ketua Adat menyuruh Dalang untuk memakan jaddah agar terhindar dari gangguan roh halus saat memainkan wayang sedangkan masyarakat memanfaatkannya dengan membayar pajak tanah kepada aparat Desa.
Sedangkan tradisi lain yang dijalankan oleh masyarakat Desa Lerep berupa tradisi Iriban yang diadakan setiap hari kamis kliwon setiap bulan rajab. Iriban merupakan bentuk tradisi  membersihan tuk jaro serta Wangan (Sungai) dengan tujuan agar sumber mata air tetap terjaga kelestariannnya.
Ciri khas tradisi Iriban Desa Lerep dibandingkan Desa lain, biasanya Iriban yang berada di Desa lain membawa makanan dari rumah berupa makanan yang telah matang sedangkan Iriban yang berada di Desa Lerep, berupa bahan makanan mentahan termasuk sayuran yang diambil dari lokasi Iriban yang dipotong kecil kedalam bambu lalu dibakar.
Gambar 3. Kegiatan masyarakat Desa Lerep dalam Tradisi Iriban (Sumber: Dokumentasi Desa)
Berdasarkan gambar 3. terlihat kegiatan masyarakat Desa Lerep dalam tradisi Iriban, terlihat masyarakat sedang berdo’a disamping aliran Wangan (Sungai). Makna dari tradisi Iriban sebagai ikatan komunikasi yang erat antar masyarakat Desa Lerep serta sebagai sarana pembelajaran kepada anak tentang pentingnya keseimbangan hidup dengan alam.

2.      Kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg dalam upaya ketahanan pangan di Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.
2.1  Faktor ketersediaan pangan
Ketersediaan pangan masyarakat Desa Lerep sejauh ini masih tercukupi, karena adanya suplai dari Desa lain serta karena faktor kebiasaan masyarakat mengkonsumsi makanan non beras seperti ubi jalar, ubi kayu, dan jagung setiap pagi yang diambil dari pekarangan atau kebun mereka.
Sedangkan upaya ketahanan pangan masyarakat Desa Lerep melalui kearifan lokal Tunggu Gununng Kudu Wareg yaitu melalui sistem tumpangsari antara tanaman buah-buahan dan perkebunan yang mempunyai nilai jual tinggi dibandingkan tanaman pangan sehingga pendapatan masyarakat dapat meningkat guna memenuhi kebutuhan  pangan. Lihat gambar 4.
Gambar 4 Kegiatan masyarakat Desa Lerep dalam upaya Tunggu Gunung Kudu Wareg
(Sumber: Dokumentasi Penelitian Wakhyudin, tanggal 17 Juni 2016)
Berdasarkan gambar 3. terlihat seseorang sedang memetik cengkeh dalam rangka Tunggu Gunung Kudu Wareg.
2.2 Faktor distribusi  pangan 
Masyarakat Desa Lerep dalam memperoleh pangan sehari-hari biasanya dengan cara membeli beras karena dengan aksesbilitas jalan yang mudah dilalui sehingga keterjangkauan masyarakat dalam memperoleh bahan pangan dapat terpenuhi walaupun kadangkala untuk mendapatkan pangan tambahan diperoleh dari kebun atau pekarangan masyarakat sendiri.
Berdasarkan informasi yang peneliti peroleh dari 13 masyarakat yang berprofesi sebagai petani, pendapatan harian petani antara Rp 40.000 – Rp 180.000/hari. Pendapatan tersebut diperoleh dari non usaha tani sedangkan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan pangan petani  antara Rp 30.000 Rp 90.000/hari. (sumber: Wawancara tanggal 20-15 Juni 2016)
Menurut pernyataan masyarakat yang berprofesi sebagai petani, pendapatan mereka dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan anggota keluarga yang jumlahnya antara 2-6 orang. selain itu juga peran istri dalam keluarga petani di Desa Lerep sangat membantu dalam kebutuhan rumah tangga. Rata-rata istri petani bekerja sebagai buruh serabutan dengan upah harian Rp 25.000-Rp 40.000 per hari, tergantung dari jenis pekerjaan apa yang dikerjakan.
2.3  Faktor konsumsi  pangan 
            Masyarakat Desa Lerep dapat mengkonsumsi pangan setiap seharinya yang berdampak pada masyarakat yang tidak mengalami kelaparan, berbeda sebelum diberlakukannya Tunggu Gunung Kudu Wareg, masyarakat Desa Lerep pernah mengalami kelaparan.
Berdasarkan temuan di lapangan. masyarakat yang tinggal di lereng gunung memiliki kebiasaan setiap pagi tidak mengkonsumsi nasi melainkan hanya mengkonsumsi ubi kayu, ubi jalar maupun jagung serta teh manis sebelum beraktivitas. Hal tersebut sebagai diversifikasi dalam rangka ketahanan pangan yang sudah ada sejak dahulu sebagai kebiasaan masyarakat Desa Lerep yang sudah diwariskan turun temurun
3.      Potensi sumber daya hutan sebagai pendukung kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg di Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.
Produk yang dihasilkan dari sumber daya hutan berupa tanaman buah dan perkebunan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat Desa Lerep. untuk lebih jelasnya lihat tabel 2 dan tabel 3 sebagai  berikut.


Tabel 2. Produksi tanaman buah-buahan di Desa Lerep tahun 2014
Desa
Produksi Tanaman Buah-buahan per komoditi (Kw)
Nangka
Alpukat
Pisang
Mangga
Salak
Manggis
Rambutan
Durian
Lerep
5,3
9,09
132,3
14,3
1,81
50,2
34,6
41,1


Sumber : Kecamatan Ungaran Barat dalam Angka 2015

Tabel 3. Produksi tanaman perkebunan Desa Lerep tahun 2014


Desa
Jenis Tanaman (Ton)
Kelapa dalam
Cengkeh
Kopi Robusta
Kopi Arabika
Lerep
4,66
1,67
1,54
0, 48
Sumber : Kecamatan Ungaran Barat dalam Angka 2015


Berdasarkan Tabel 2 dan 3 dapat diketahui hasil produksi tanaman Buah-buahan Desa Lerep tahun 2014, pada tanaman buah-buahan jumlah produksi tertinggi adalah buah pisang sebesar 132,3 Kw sedangkan terendah adalah buah salak sebanyak 18,1 Kw sedangkan Tabel. 3 Jumlah produksi tanaman perkebunan masyarakat Desa Lerep tahun 2014. Sedangkan untuk produk tanaman perkebunan tahun 2014 menghasilkan tanaman perkebunan tertinggi adalah kelapa dalam  sebanyak 4,66 Ton dan terenda adalah kopi arabika sebanyak 0.48 Ton.
PEMBAHASAN
Kearifan Lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg dalam upaya ketahanan pangan di Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang
Kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg dalam upaya ketahanan pangan masyarakat Desa Lerep sebenarnya merupakan suatu kondisi dimana masyarakat dapat memperoleh akses pangan melalui peningkatan pendapatan rumah tangga yang tinggi sehingga masyarakat dapat menjangkau harga pangan.
Menurut Arifin (2004:34) konsep ketahanan pangan pada masyarakat mencakup penyediaan pangan dalam jumlah yang cukup serta dengan harga yang tejangkau oleh masyarakat. Basis dari konsep ketahanan pangan ini adalah ketahanan pangan ditingkat rumah tangga, terutama ditingkat pedesaan.
Dengan adanya harga bahan pangan yang dapat dijangkau oleh tingkat rumah tangga, masyarakat Desa Lerep dapat memenuhi kebutuhan pangannya dengan baik, dalam hal ini tingkat pendapatan dan daya beli merupakan faktor penentu akses rumah tangga terhadap pangan.
Akses pangan masyarakat Desa Lerep ditentukan karena pendapatan masyarakat yang meningkat akibat diterapkannya kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg, selain itu juga karena beberapa pertimbangan antara lain:
1.      Topografi
Desa Lerep merupakan Desa yang berada di Lereng gunung Ungaran, dengan topografi yang miring, jika digunakan sebagai lahan persawahan, justru berpotensi terjadi bencana longsor.
2.      Biaya
Biaya operasional untuk mengelola sawah terasering dirasa cukup memberatkan bagi petani jika dibandingkan tanaman perkebunan yang pengelolaannya lebih ringan.
3.      Nilai jual produk
Nilai jual produk tanaman perkebunan yang tinggi dibandingkan produk tanaman pangan yang dihasilkan dari sawah, menyebabkan masyarakat Desa Lerep lebih memilih tanaman perkebunan khususnya cengkeh dengan sistem tumpangsari.
Ketiga aspek diatas merupakan faktor-faktor yang melatarbelakangi masyarakat mengikuti aturan Desa melalui kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga berbentuk tumpangsari dan agroforestry yang merupakan sistem pemanfaatan lahan secara optimal berasaskan kelestarian lingkungan dengan mengkombinasikan tanaman kehutanan dan pertanian (perkebunan) sehingga dapat meningkatkan perekonomian petani di pedesaan (Gautama dalam Mustofa, 2011:3)
Distribusi pangan masyarakat Desa Lerep diperoleh dengan cara membeli bahan pangan di pasar walaupun kadangkala sebagai pangan tambahan diperoleh dari kebun berupa ubi kayu, ubi jalar dan jagung, hal tersebut karena pasar merupakan tempat yang memiliki bahan pangan yang bervariasi dengan aksesbilitas yang mudah dilalui sehingga keterjangkauan masyarakat dalam memperoleh bahan pangan dapat terpenuhi.
Menurut Rosyadi, dkk. (2015: 127). aksebilitas masyarakat (rumah tangga) tehadap bahan pangan sangat ditentukan oleh daya beli, dan daya beli ini ditentukan besarnya pendapatan dan harga komoditas pangan.
Jika ditinjau dari segi pendapatan rumah tangga petani setiap hari, masyarakat petani Desa Lerep merangkap pekerjaan sesuai dengan Banowati (2013:51) sumber pendapatan utama rumah tangga dapat dibedakan menjadi dua, yakni pendapatan yang diperoleh dari usaha tani (farm) dan pendapatan dari luar usaha tani (off farm).
Perhitungan pendapatan petani dapat dijelaskan sebagai berikut: pendapatan luar usaha tani antara Rp 50.000 - Rp180.000 perhari sedangkan pendapatan usaha tani berasal dari perkebunan cengkeh yang mereka kelola. setiap pohon cengkeh menghasilkan cengkeh antara 20-15 Kg, cengkeh basah atau sekitar 6-5 Kg dalam keadaan kering, sedangkan harga cengkeh Rp 120.000 - Rp 150.000/Kg. untuk lebih jelasnya lihat tabel 4.



Tabel 4. Pendapatan usaha tani dalam pengelolaan perkebunan cengkeh.
Tanaman
Jumlah pohon
Produk yang dihasilkan perpohon
Harga 1 kg Cengkeh
Pendapatan Setahun
Pendapatan Sebulan
Pendapatan Sehari
Pohon Cengkeh
100
5 Kg
Rp 120.000
Rp 60.000.000
Rp 5.000.000
Rp 166.000
Sumber: Data Primer



Jika Rp 166.000 + Rp 40.000 (pendapatan diluar usaha non pertanian) = Rp 206.000/hari + pendapatan isteri Rp 25.000/hari = Rp 231.000 - Rp 90.000 (pengeluaran untuk pangan) = Rp 141.000/hari.
Petani Desa Lerep selain mendapatkan penghasilan dari perkebunan sendiri mereka juga mendapatkan penghasilan dari pengelolaan lahan tambahan berupa sistem tumpangsari dengan perhutani.
Pesanggem atau petani hutan Desa Lerep hanya boleh menanam tanaman kopi dibawah tanaman tegakan dengan luas 1 ha. misalkan dalam 1 ha ditamani 800 pohon dan tiap pohon menghasilkan 1 kg Kopi maka dalam sekali panen menghasilkan 800 Kg kopi atau sekitar 8 Kw/tahun. Jika harga 1 Kg kopi kering dihargai Rp 15.000 (Sumber: Data primer). Untuk lebih jelasnya lihat tabel  5




Tabel 5. Pendapatan petani hutan (pesanggem) dalam tumpangsari
Tanaman
Jumlah pohon
Produk yang dihasilkan perpohon
Harga 1 kg kopi
Pendapatan Setahun
Pendapatan Sebulan
Pendapatan Sehari
Pohon kopi
800
800 Kg
Rp 15.000
Rp 12.000.000
Rp 1.000.000
Rp 33.000


Sumber: Data Primer




Jika dilihat dari harga beras saat bulan Juni tahun 2016 sekitar Rp 11.000/Kg (Sumber: Data PPL) maka pendapatan harian petani Desa Lerep ialah Rp 166.000 (perkebunan cengkeh) + Rp 40.000 (usaha non pertanian) +Rp 33.000 (tumpangsari kopi) = Rp 239.000/hari.
Keuntungan yang diperoleh petani setidaknya menjadi pemicu ketahanan pangan Desa Lerep sebagaimana pernyataan Abidin dalam Mustofa (2011:7) bahwa ketahanan pangan dapat terwujud apabila ketersediaan pangan didukung oleh peningkatan pendapatan petani, sehingga petani bergairah memproduksi tanaman perkebunan dan memperoleh keuntungan yang memadai.
Konsumsi pangan merupakan salah satu faktor penunjang ketahanan pangan. Dalam hal ini, masyarakat petani Desa Lerep dalam mengkonsumsi pangan berasal dari sumber daya alam contohnya melalui diversifikasi pangan yaitu kebiasaan masyarakat mengkonsumsi ubi-ubian dan jagung untuk memenuhi kebutuhan pangan setiap hari senada dengan Soemarwoto (1991:270) Ubi-ubian berfungsi sebagai sumber energi, karena kandungan karbohidratnya yang tinggi. ubi itu dimakan sebagai makanan pokok atau sebagai makanan kecil pengiring minum teh dan kopi. Sebagai makanan pokok, ubi-ubian dapat menggantikan beras atau sebagai makanan selingan misalnya pagi hari ubi dan siang hari nasi.
Menurut Maleha dan Adi Susanto dalam Sahrah (2014:7) Subsistem konsumsi pangan menyangkut upaya peningkatan pengetahuan, keterampilan  dan kemampuan masyarakat agar mempunyai pemahaman atas pangan, gizi dan kesehatan yang baik, sehingga dapat mengelola konsumsinya secara optimal, Sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat Desa Lerep, masyarakat memanfaatkan pekarangan yang ada untuk ditanami buah dan sayur.
Berdasarkan pemaparan yang sudah peneliti jelaskan kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg sebagai upaya ketahanan pangan di Desa Lerep merupakan usaha untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dengan sistem  Agroforestry dan tumpangsari melalui tanaman perkebunan agar masyarakat dapat mengakses pangan yang baik serta sebagai upaya untuk pelestarian lingkungan tanpa meninggalkan kebiasaan yang sudah diwarisakan turun temurun.

SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijabarkan pada bagian depan, tersebut maka dapat diambil kesimpulan:
1.      Kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg merupakan bentuk slogan peraturan desa dan peraturan adat sebagai bentuk upaya pelestarian lingkungan.
2.      Kearifan Lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg sebagai upaya ketahanan pangan masyarakat dengan meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui komoditas perkebunan dengan sistem tumpangsari.
3.      Potensi sumber daya hutan sebagai lahan tambahan dengan sistem agroforestry berupa tanaman perkebunan dan tanaman buah sebagai pendukung kearifan lokal telah mampu meningkatkan akses pangan masyarakat menjadi lebih baik.

SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan, saran yang dapat peneliti sampaikan kepada:
1.      Pemerintah Desa Lerep perlu menerapkan program pengenalan usaha pertanian agar minat Remaja Desa Lerep tinggi untuk terjun secara langsung ke sektor perkebunan sebagai upaya pewarisan agar kearifan lokal tersebut tetap terjaga.
2.      Remaja Desa Lerep diharapkan masih mempertahankan kearifan lokal yang ada berupa aturan desa dan sebab hal tersebut merupakan tonggak ketahanan pangan masyarakat Desa Lerep dengan memanfaatkan potensi lokal





DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Bustanul. 2004. Analisis Ekonomi Pertanian Indonesia. Jakarta: Kompas
Banowati, Eva dan Sriyanto. 2013. Geografi Pertanian. Yogyakarta: Ombak
Data Monografi Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang Tahun 2015
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta:Rineka Cipta
Moleong, Lexy J. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Posdakarya
Mustofa, Solehatul. 2011. Perilaku Masyarakat Desa Hutan dalam memanfaatkan Lahan di bawah Tegakan. Jurnal Komunitas. Vol.3 No.1 edisi Maret http://journal.unnes.ac.ai/nju/index.php/komunitas
Sahrah, Alimatus. Rekayasa Psikososial untuk Pencapaian Kedaulatan Pangan Indonesia. 2012. Jurnal Prosding SNKPN 2014. ISBN :  978-602-71704-0-7. http://jurnal.unri.ac.id/file/Sari.pdf
Soemarwoto, Otto. 1991. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.  Bandung: Alfabeta

Widodo, Bambang. 2016. Kantor Ketahanann Pangan. Semarang.